14/05/2026
×
×
Today's Local
14/05/2026
Tutup x

Pertamina EP Donggi Matindok Field Hadirkan Kokolomboi Lestari Ketika Perusahaan dan Rakyat Menjadi Penjaga Alam


Di lereng barat Pulau Peleng, di balik rimbunnya hutan dan terjalnya jalur tanah yang membelah bukit dan lembah, berdiri sebuah dusun kecil bernama Kokolomboi. Terletak di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut, dusun ini adalah bagian dari Desa Leme-Leme Darat, Kecamatan Buko, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Untuk mencapainya, diperlukan perjalanan sejauh 120 kilometer dari pusat kabupaten, atau lebih dari 670 kilometer dari ibu kota provinsi. Sebuah lokasi yang jauh dari keramaian, tapi kini menjadi simbol perubahan yang lahir dari tengah keterpencilan.

Dahulu, sebagian besar masyarakat adat Togong-Tanga di Dusun Kokolomboi hidup dari hutan dengan cara-cara yang tak berkelanjutan. Mereka berpindah-pindah ladang, menebang pohon tanpa izin, berburu satwa endemik, dan menggantungkan hidup dari ekosistem yang perlahan rusak. Dalam catatan pemerintah desa, sekitar 15,05% penduduk hidup dalam kemiskinan. Sementara itu, data kabupaten menunjukkan bahwa lahan kritis di Banggai Kepulauan mencapai lebih dari 28 ribu hektare, dengan 144 hektare masuk kategori sangat kritis. Di tengah tekanan ekonomi dan degradasi lingkungan, masyarakat kehilangan banyak hal sekaligus: hutan, sumber penghidupan, dan harapan.

Namun segalanya mulai berubah ketika Pertamina EP Donggi Matindok Field (PEP DMF) menghadirkan Program Kokolomboi Lestari. Program ini dirancang bukan hanya sebagai proyek CSR biasa, tetapi sebagai gerakan perubahan yang memadukan tiga pendekatan: ekologi, sosial ekonomi, dan sosial budaya. Pendekatan ekologis dilakukan untuk memulihkan hutan dan melindungi satwa endemik seperti Tarsius Peleng dan Gagak Banggai. Pendekatan ekonomi dirancang untuk menciptakan sumber penghidupan baru yang ramah lingkungan, sementara pendekatan budaya difokuskan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai adat dan identitas lokal.

Salah satu inovasi paling berhasil dalam program ini adalah budidaya lebah madu batu dan dahan dengan metode yang tidak merusak hutan. Menggunakan rumah lebah dari batang palem, para petani madu tidak lagi harus menebang pohon atau memanjat tebing curam untuk mengambil sarang madu. Mereka dilatih, didampingi, dan dibekali pengetahuan modern yang berpadu dengan kearifan lokal. Kini, 10 petani madu di kawasan Taman Kehati Kokolomboi mampu memanen antara 800 hingga 1.200 liter madu per tahun. Di luar kawasan, 245 petani madu telah terafiliasi dalam jejaring produksi yang bisa mencapai 8.400 liter per tahun.

BACA  Kejuaraan Balap Motor Kapolres Banggai Race Cup 2024 Dimulai Besok:

Pendapatan para petani meningkat secara signifikan. Bahkan tercatat kenaikan penghasilan sebesar 1002% per bulan bagi 29 petani madu utama. Kehidupan berubah: dapur yang dulu kosong kini berisi, anak-anak kembali ke sekolah, dan masyarakat tak lagi menggantungkan hidup pada praktik merusak hutan. Madu bukan lagi sekadar hasil alam, melainkan simbol keberdayaan.

Bersamaan dengan itu, kawasan ini mulai menarik perhatian para pecinta alam, peneliti, dan wisatawan. Ekowisata tumbuh perlahan namun pasti. Dalam setahun terakhir, tercatat 453 wisatawan domestik dan lebih dari 60 wisatawan asing dari 22 negara mengunjungi Kokolomboi. Mereka datang bukan hanya untuk menikmati panorama alam, tapi juga untuk belajar tentang konservasi dan budaya masyarakat adat. Masyarakat lokal kini menjadi penyedia jasa lingkungan—sebagai pemandu, penyedia homestay, penyaji kuliner, hingga penjual kerajinan tangan. Tarif kontribusi lingkungan pun telah ditetapkan: Rp60.000 per hari untuk wisatawan lokal dan Rp200.000 untuk wisatawan asing. Ekonomi tumbuh, tapi hutan tetap lestari.

Dampak ekologis dari program ini pun nyata. Sebanyak 4 hektare lahan kritis berhasil direstorasi. Sebanyak 2.500 bibit flora endemik ditanam, bukan hanya untuk memperkaya ekosistem tetapi juga sebagai sumber pakan satwa liar. Populasi Tarsius Peleng meningkat dari 17 ekor menjadi 46 ekor. Gagak Banggai, yang sebelumnya hanya satu ekor tercatat, kini berkembang menjadi delapan ekor. Dari sisi emisi karbon, program ini berhasil mengurangi 0,0838 ton CO₂eq per tahun, serta menyerap 1,32 ton CO₂ melalui pemanfaatan limbah batang palem. Limbah non-B3 seperti biosulfur dan ban bekas pun dimanfaatkan sebagai material produktif, menciptakan sirkularitas yang berkelanjutan.

Tak hanya lingkungan dan ekonomi, ranah sosial budaya juga mengalami kebangkitan. Melalui pendekatan partisipatif, masyarakat adat diberdayakan untuk kembali memaknai nilai-nilai leluhur mereka. Tari Lakasinding, seni gerak khas Togong-Tanga, kini dipentaskan dalam berbagai event hingga skala internasional. Festival budaya diselenggarakan secara berkala, melibatkan sekolah-sekolah, lembaga adat, dan pemuda setempat. Lebih dari 40 media nasional dan lokal telah meliput keberhasilan ini. Bahkan, Social Return on Investment (SROI) program tercatat meningkat sebesar 52% dari awal program dimulai.

BACA  Hadir di Perayaan HUT Bhayangkara ke-78, Ini Harapan Kajari Banggai

Secara keseluruhan, Program Kokolomboi Lestari telah memberikan manfaat kepada 1.092 individu: 29 orang terlibat langsung dalam kegiatan inti, dan lebih dari 1.063 lainnya menerima manfaat tidak langsung melalui akses terhadap ekowisata, edukasi, dan penguatan kelembagaan. Tiga lembaga lokal terbentuk sebagai mitra pelaksana. Tujuh sekolah aktif terlibat dalam edukasi konservasi. Sebanyak 15 pemangku kepentingan lintas sektor—dari LSM, akademisi, hingga tokoh agama—ikut ambil bagian. Bahkan, sebanyak 16 keluarga miskin kini telah bertransformasi menjadi keluarga produktif yang berdaya dan mandiri.

Labi Mopok, yang dahulu dikenal sebagai pemburu, kini menjadi petani madu dan pemandu konservasi. Dalam kesaksiannya, ia berkata, “Jika sebelumnya kami hidup dari hasil hutan yang merusak, kini kami hidup dari madu dan menjaga hutan. Dulu hutan memberi makan, sekarang kami menjaga agar hutan tetap bisa memberi.”

Sementara itu, Ridwan Kiay Demak, Field Manager PEP Donggi Matindok Field, menegaskan bahwa yang terpenting dari semua pencapaian ini bukan hanya peningkatan pendapatan atau perbaikan lingkungan. “Yang paling penting adalah transformasi perilaku. Masyarakat binaan kini menjadi pejuang lingkungan. Mereka tidak hanya lebih sejahtera, tetapi juga lebih sadar akan pentingnya keberlanjutan,” ujarnya.

Program Kokolomboi Lestari adalah bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari desa terpencil. Bahwa dengan kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, masyarakat adat, dan alam—masa depan yang lestari bukan hanya mungkin, tetapi sedang terjadi. Dari Kokolomboi, lahir harapan. Dari hutan yang dulu luka, kini tumbuh kehidupan baru.