Forum Pemuda Kintom Soroti Kegagalan CSR DSLNG dan ESSA PAU, Desak Perubahan Nyata

Share This Article
KINTOM — Forum Pemuda Kecamatan Kintom Bersatu menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dijalankan PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) dan PT Panca Amara Utama (ESSA PAU) di wilayah Ring I.
Ketua Forum, Zul Noho kepada media ini Kamis, (24/7), menilai bahwa banyak program CSR yang selama ini dijalankan justru berakhir sebagai proyek gagal—tidak tepat sasaran, tidak berkelanjutan, dan minim dampak terhadap masyarakat lokal, khususnya para pemuda di wilayah terdampak atau Ring 1.
Menurut Zul, CSR dari dua perusahaan migas tersebut selama ini cenderung bersifat seremonial dan formalitas belaka. Beberapa hanya berfokus pada pembangunan fisik seperti infrastruktur desa, papan nama, dan kegiatan sosial sesaat, tanpa menyentuh kebutuhan dasar masyarakat yang lebih substansial. Ia menegaskan, pemuda tidak membutuhkan proyek mercusuar atau baliho pencitraan, melainkan pelatihan yang nyata dan peluang kerja di sektor industri migas yang justru beroperasi di atas tanah mereka.
Zul menyebutkan bahwa banyak pelatihan yang pernah digelar perusahaan hanya berhenti di ruang kelas. Tidak ada kelanjutan, tidak ada pendampingan, dan bahkan tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Sertifikat yang diberikan juga seringkali tidak diakui dalam rekrutmen ketenagakerjaan. Akibatnya, para pemuda yang sudah ikut pelatihan tetap tidak mendapatkan akses kerja. “Banyak program CSR yang hanya bagus di proposal, tapi nol hasilnya di lapangan. Kami lelah melihat kegiatan yang hanya menghabiskan anggaran tanpa ada manfaat nyata,” tegas Zul.
Forum Pemuda Kintom Bersatu mendesak agar program CSR diarahkan kepada pelatihan teknis seperti scaffolding, pipe fitter, welder, rigger, operator kilang, hingga pelatihan keselamatan kerja K3 Migas yang menjadi standar dasar dalam dunia industri energi.
Zul menyatakan bahwa pemuda Kintom siap berkontribusi, tidak hanya sebagai tenaga kasar dalam proyek konstruksi, tapi juga pada tahapan produksi dan operasional kilang. Namun untuk itu, dibutuhkan program pembekalan yang serius, terstruktur, dan berorientasi jangka panjang. Dan CSR seharusnya menjadi jalur strategis untuk itu.
Lebih jauh, Zul juga menyoroti bahwa pola CSR yang tidak merata dan tidak transparan kerap memicu konflik horizontal di masyarakat. Ia menuduh bahwa ada upaya sistematis dari perusahaan untuk membagi masyarakat melalui program CSR yang hanya menguntungkan kelompok tertentu.
“Beberapa waktu lalu, kami sudah lihat sendiri bagaimana CSR malah jadi alat pemecah belah. Ini bukan tanggung jawab sosial, ini strategi pecah belah yang halus,” ujarnya.
Kekecewaan ini diperparah oleh kenyataan bahwa hasil bumi di wilayah mereka telah dikeruk habis-habisan, sementara pemuda di kampung sendiri tetap jadi penonton. Forum menegaskan bahwa masyarakat Ring 1 harus menjadi subjek utama dalam setiap penyusunan dan pelaksanaan program CSR, bukan hanya penerima pasif. Tanpa pelibatan masyarakat lokal, kata Zul, maka program CSR akan terus gagal, seperti yang sudah-sudah.
“Sudah cukup kami hanya menerima sisa-sisa. Sudah cukup program asal jadi yang berakhir tanpa hasil. Sekarang saatnya perusahaan mengubah pendekatan. Libatkan kami sejak awal, rancang program berdasarkan kebutuhan kami, dan pastikan ada hasil konkret yang bisa kami rasakan,” tutur Zul.
Forum Pemuda Kintom Bersatu menegaskan komitmennya untuk terus mengawal setiap aktivitas industri yang berdampak pada masyarakat lokal, termasuk program CSR. Mereka membuka ruang dialog dengan perusahaan dan pemerintah daerah, namun tetap akan berdiri di garis depan jika keadilan sosial dan masa depan pemuda terus diabaikan.
“Kami tidak akan diam. Jika perlu, kami suarakan ini ke publik luas. Kami tidak anti industri, tapi kami menolak dipinggirkan di tanah kami sendiri,” pungkas Zul.

