13/06/2026
×
×
Today's Local
13/06/2026
Tutup x

Kisah Jembatan Merah Jole, Pasar Simpong


BANGGAI,Metroluwuk – Sekelompok warga pedagang Pasar Simpong, yang berada di bantaran Sungai Jole, Kelurahan Simpong, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, bergotong royong membangun kembali jembatan yang rusak. “Jembatan ini dikenal dengan nama Jembatan Merah,” ungkap salah satu warga pada Selasa, 10 September 2024.

Keterangan Foto: Jembatan Merah Jole. Warga pedagang Pasar Simpong bergotong royong memperbaiki jembatan kayu untuk memudahkan warga yang berbelanja dan berinteraksi sosial di sekitar kompleks pasar.

Pantauan MetroLuwuk menunjukkan bahwa sejumlah warga telah bekerja bersama-sama sejak 4 September 2024 untuk memperbaiki hampir 90 persen kerusakan jembatan yang lokasinya tidak jauh dari Kantor Kelurahan Jole. Beberapa warga terlihat memotong papan dengan chainsaw, sementara sebagian lainnya tampak lelah namun tetap bersemangat menyelesaikan renovasi jembatan tersebut.

Menurut Ibu Fitri, seorang pedagang di Pasar Simpong, jembatan ini sudah lama ada, namun banyak bagian papan dan kayu penyangganya yang sudah rusak. “Padahal, jembatan ini sangat membantu kami, baik untuk belanja maupun berinteraksi sosial dengan warga sekitar. Selain itu, kami juga dapat lebih mudah mengantar anak-anak ke sekolah tanpa harus memutari jalan raya,” jelasnya.

Fitri menambahkan bahwa jembatan ini pertama kali dibangun oleh Herwin Yatim setelah setahun menjabat sebagai Bupati Banggai. “Renovasi ini sangat penting bagi kami, apalagi banyak warga yang memanfaatkan jembatan ini untuk keperluan sehari-hari,” ungkapnya kepada wartawan.

Syamsul Hasan, salah satu warga, menambahkan bahwa gotong royong ini merupakan inisiatif warga untuk mempermudah akses, baik bagi pedagang maupun pembeli di Pasar Simpong. Meski dalam pengerjaannya dibantu oleh beberapa calon Pilkada 2024, bantuan ini diterima dengan baik oleh masyarakat.

“Sebelumnya, jembatan yang rusak ini sudah menyebabkan dua orang jatuh ke sungai, salah satunya adalah anak berusia sekitar 7 tahun. Jika tidak segera diperbaiki, korban bisa bertambah,” ungkap Syamsul.

Syamsul juga mengungkapkan asal-usul nama Jembatan Merah. Nama ini diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada Herwin Yatim, yang merupakan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), partai dengan lambang kepala banteng berhidung putih atau moncong putih.

BACA  PT Penta Dharma Karsa Diduga Menambang di Luar Konsesi, DPRD Banggai Minta Klarifikasi

“Nama Jembatan Merah ini sebagai bentuk terima kasih kami kepada Herwin Yatim, yang merupakan kader PDIP,” jelasnya.