Terima Kasih Pertamina, Kami Tak Lagi Belajar di Lantai
Duduk Layak, Belajar Bermartabat: Komitmen Pertamina Donggi Matindok

Share This Article
Hari masih pagi saat suara pelan adzan Subuh memudar di kejauhan. Di Desa Lemah Abang, Kecamatan Toili Barat, suara ayam bersahut-sahutan menandai awal aktivitas. Tapi bagi siswa-siswa di SMP Terpadu Yayasan Pesantren Lemah Abang, pagi bukan sekadar soal bangun tidur. Ini soal berlomba datang lebih awal — bukan untuk menghindari guru, melainkan demi satu hal: tempat duduk.
Di sekolah itu, kursi dan meja belajar adalah barang langka. Tak semua anak punya tempat untuk menulis. Beberapa hanya mengandalkan pangkuan. Yang lain duduk bersila di lantai semen yang dingin, kadang beralaskan kardus atau tikar tua. Sebagian bahkan membawa bangku plastik kecil dari rumah. Itupun jika orang tua mereka mampu membelikannya di pasar.
“Kami belajar bergantian, kadang dua sesi. Kalau pagi anak kelas 7, siang giliran kelas 8 dan 9. Karena bangku dan mejanya tidak cukup,” ujar Ibu Sri, salah seorang guru yang telah mengajar di sekolah itu sejak didirikan. “Kalau musim hujan, atap bocor. Lantai basah. Tapi anak-anak tetap datang. Mereka tidak mau ketinggalan pelajaran.”
Kondisi serupa juga dialami oleh siswa-siswa di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Khairaat, Kecamatan Batui. Terletak tidak jauh dari salah satu titik operasi migas, sekolah ini berdiri di tengah keterbatasan. Tapi semangat belajar tak pernah surut, meski meja dan kursi hanya impian.

Kondisi menyedihkan itu akhirnya sampai ke telinga Pertamina EP Donggi Matindok Field (PEP DMF). Sebagai operator migas yang beroperasi di wilayah Banggai, PEP DMF tidak menutup mata. Melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) tahun 2025, mereka turun langsung meninjau kondisi sekolah-sekolah di sekitar ring 1 operasi mereka.
Dari hasil musyawarah bersama masyarakat, melalui forum dialog sosial dan Musrenbangdes, sektor pendidikan muncul sebagai isu krusial. Kebutuhan akan fasilitas belajar menjadi perhatian utama.
Tak butuh waktu lama, PEP DMF segera merealisasikan komitmennya dengan menyerahkan 100 paket meubelair (meja dan kursi belajar) kepada dua sekolah tersebut.
“Ini bukan sekadar bantuan fisik,” ujar Ridwan Kiay Demak, Field Manager Donggi Matindok Field. “Kami ingin anak-anak bisa belajar dengan nyaman, dengan kepala tegak, dan mimpi yang tidak patah hanya karena mereka tidak punya meja.”
Meja dan Kursi Itu Lebih dari Kayu dan Besi
Saat truk pengangkut bantuan tiba di halaman sekolah, anak-anak berkerumun. Mata mereka berbinar. Meja-meja itu tampak mengkilap, kokoh, dan rapi. Kursi-kursi disusun perlahan ke dalam kelas. Suasana berubah. Ruang kelas yang biasanya suram kini terlihat layak. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, kelas terasa seperti kelas.
“Terima kasih Pertamina,” tulis seorang siswa di papan tulis, lengkap dengan gambar hati dan pelangi. Kalimat sederhana itu mewakili rasa syukur ratusan siswa yang akhirnya bisa merasakan belajar dengan fasilitas yang layak.
Bagi anak-anak di pedalaman, meja dan kursi bukan sekadar alat bantu belajar. Ia adalah pengakuan. Bahwa mereka juga penting. Bahwa pendidikan mereka layak diperjuangkan. Bahwa mimpi mereka tidak kalah besar dari anak-anak di kota.
Program bantuan meubelair ini menjadi bagian dari strategi keberlanjutan PEP DMF yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Khususnya tujuan nomor 4: Pendidikan Berkualitas, serta tujuan nomor 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Dalam kerangka tanggung jawab sosial perusahaan, PEP DMF menegaskan bahwa keberadaan mereka di daerah bukan hanya untuk mengejar hasil produksi, tetapi juga untuk mengangkat harkat hidup masyarakat sekitar, terutama generasi mudanya.
“Kami percaya bahwa pembangunan yang sejati harus menyentuh sisi manusia,” lanjut Ridwan. “Anak-anak ini adalah masa depan Banggai. Mereka perlu dukungan sejak hari ini.”
Menariknya, proses distribusi meubelair dilakukan dengan pendekatan partisipatif. Pihak sekolah dan warga ikut serta dalam mengangkut dan menata kursi-meja. Dengan cara itu, bukan hanya hubungan sosial antara perusahaan dan masyarakat yang menguat, tapi juga tumbuh rasa memiliki bersama.
“Anak-anak kami menjaga baik-baik kursi ini. Kalau ada yang rusak, mereka lapor sendiri ke guru. Karena mereka tahu, ini bukan milik pemerintah, bukan milik guru, tapi milik kita bersama,” kata Kepala Sekolah MTs Al-Khairaat, penuh haru.
Bantuan meubelair ini memang menjadi sorotan, tapi bukanlah yang pertama dalam jejak panjang kontribusi PEP DMF di Banggai. Sebelumnya, perusahaan ini juga mendukung berbagai program kesehatan, sanitasi, serta pemberdayaan ekonomi lokal. Semua diarahkan untuk menciptakan dampak jangka panjang yang berkelanjutan.
Namun demikian, apa yang terjadi di sekolah Lemah Abang dan MTs Al-Khairaat meninggalkan kesan yang berbeda. Karena di sinilah mimpi dimulai. Di sinilah anak-anak kecil belajar mengenal dunia, menggapai cita, dan menumbuhkan keberanian untuk percaya pada masa depan.
Satu Meja, Ribuan Mimpi
Hari ini, ketika anak-anak itu duduk di kursi mereka yang baru, dengan buku terbuka di atas meja yang kokoh, ada harapan yang menyala. Mereka tak lagi harus menulis sambil meringkuk. Tak lagi harus bergantian duduk. Tak lagi belajar dengan malu karena tidak punya apa-apa.
Di desa kecil yang dulu sering luput dari perhatian, kini hadir secercah cahaya dari sebuah perusahaan energi. Pertamina EP Donggi Matindok Field, dengan segala daya dan upaya, telah menunjukkan bahwa tanggung jawab sosial bukan sekadar kewajiban, tapi panggilan nurani.
Dan mungkin, di antara suara halaman dibalik dan coretan pensil di buku latihan, ada satu kalimat yang lahir dari hati paling dalam:
“Terima kasih, Pertamina. Karena meja ini, kami bisa menulis masa depan kami sendiri.”

