Derita di Bangku Pendidikan : Siswa SDN Momotan Belajar tanpa Bangku dan Meja

Share This Article
BANGKEP, Metroluwuk – Dalam keheningan kelas di SD Negeri (SDN) Momotan, terdengar langkah-langkah lembut anak-anak yang berusaha mencari tempat duduk, antara Pendidikan dan Kesehatan.
Namun, pandangan yang memprihatinkan segera menghampiri saat terungkap bahwa mereka terpaksa belajar melantai, tanpa adanya bangku dan meja.
Aktivitas belajar mengajar di SDN Momotan, yang terletak di Kecamatan Bulagi Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, memperlihatkan kondisi yang jauh dari ideal. Para siswa, yang seharusnya menikmati suasanya belajar yang nyaman, kini harus merasakan dinginnya lantai sebagai tempat duduk mereka.
Berkumpul di lantai kelas dengan keterbatasan buku-buku di pangkuan para siswa/siswi membuat mereka semangat juang untuk pendidikan mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh guru mereka. Dalam ketidaknyamanan ini, mereka menunjukan tekad dan semangat belajar yang luar biasa. Namun kerinduan akan fasilitas yang layak menjadi latar belakangan yang tak terucap.

Kisah SDN Momotan ini, menjadi gambaran betapa pentingnya infrastruktur pendidikan yang memadai. Meskipun usaha siswa dan guru tetap menginsprirasi, kenyataan bahwa mereka terus menghadapi keterbatasan dalam lingkungan belajar mereka.
Kepala Desa Momotan, Hendri Cipto Mosooli mengatakan, pihaknya baru mendapatkan informasi terkait kondisi aktivitas belajar mengajar disekolah itu.
Kepala Sekolah (Kepsek) SDN Momoton Adrince Toima menyampaikan, ada sebanyak enam kelas yang dihuni 43 siswa. Dari enam kelas itu, dua diantaranta tidak dilengkapi bangku dan meja. Yakni kelas satu dan dua.
“Kelas satu ada 16 siswa, sedangkan kelas dua ada lima siswa. Siswa dua kelas itu belajar melantai,” kata Hendri Selasa, 29 Agustus 2023.
Sebelumnya, pihak sekolah biasanya meminjam bangku dan meja dari Taman Kanak-kanak (TK) di Desa Setempat.
“Tapi, TK itu melakukan penertiban aset. (bangku dan kursi) yang di pinjam yang ada di SDN Momotan,’’ jelasnya.
Kepala Desa setempat, pihak SDN Momotan sudah pernah mengadukan masalah tersebut ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bangkep.
Aduannya tidak pernah di anggap dengan alasan anggaran sudah berjalan dan tidak mempunyai anggaran dari pusat. “Sudah tidak ada pos anggarannya,” kata Hendri mengutip penyampaian Disdikbud.
Pemerintah Desa (Pemdes) Momotan juga tak bisa berbuat banyak karena keterbatasan anggaran. Di tahun 2023 ini, Pemdes mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan sekolah, tapi untuk TK, bukan SDN Momotan.
Terpisah, Camat Bulagi Selatan Yetcon Bilalu juga mengatakan hal serupa. Dia mengaku belum menerima laporan sekaitan dengan kondisi siswa SDN Momotan sebelumnya.
Diinformasikan, mirisnya aktivitas pendidikan siswa SDN Momotan mencuat setelah diposting oleh Kades setempat di media sosial (medsos) Facebook melalui akun @Hendri Popy Mosooli.
Dalam postingannya, pemilik akun menceritakan soal kondisi para siswa. Diakhir postingan, dia menyampaikan sengaja mempublikasikan hal itu ke medsos agar mendapat perhatian elit di lingkup pemerintah daerah (Pemda) Bangkep
Kondisi di SDN Momotan mengajarkan kita untuk tidak mengabaikan kenyataan bahwa masih ada banyak tempat di Indonesia di mana akses pendidikan yang layak belum terpenuhi. Melalui perhatian dan tindakan, diharapkan bahwa para siswa di SDN Momotan dan sekolah-sekolah serupa dapat memiliki kesempatan belajar yang setara, tanpa harus mengatasi keterbatasan yang berat seperti yang mereka alami saat ini.

