30/05/2026
×
×
Today's Local
30/05/2026
Tutup x

Di Antara Senja, Laut, dan Pilihan Hidup


Sore itu matahari belum sepenuhnya turun ketika saya melaju menuju Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk. Di dalam tas pendingin yang saya bawa, beberapa botol es ubi ungu masih terasa dingin. Pesanan itu harus segera diantar ke kawasan yang oleh warga setempat lebih dikenal dengan sebutan “Tanjung”.

Jalan menuju Tanjung selalu menghadirkan pemandangan yang berbeda. Laut membentang tenang di kejauhan, sementara aktivitas warga perlahan berubah dari hiruk-pikuk siang menuju ritme senja yang lebih santai. Di kawasan itu, saya tidak hanya mengantar minuman. Saya seperti sedang mengantarkan sepotong cerita tentang harapan, perjuangan, dan keteguhan perempuan.

Ketika tiba di lokasi, seorang perempuan telah menunggu di depan rumah sederhana yang menghadap ke arah laut. Senyumnya mengembang saat menerima pesanannya.

“Ini yang lagi viral itu, ya?” katanya sambil tertawa kecil.

Saya mengangguk. Botol berisi es ubi ungu creamy itu berpindah tangan. Namun yang menarik perhatian saya bukanlah minuman yang sedang populer tersebut, melainkan sosok perempuan di hadapan saya.

Ia tampak lelah, tetapi tetap tersenyum. Di sampingnya ada beberapa anak yang sedang bermain. Sesekali ia memanggil mereka sambil membereskan pekerjaan rumah yang belum selesai. Dari percakapan singkat kami, saya mengetahui bahwa sejak pagi ia telah menjalani berbagai peran sekaligus: mengurus keluarga, bekerja membantu ekonomi rumah tangga, hingga memastikan kebutuhan anak-anak terpenuhi.

Di sanalah saya menyadari sesuatu.

Di banyak sudut Banggai, perempuan sering berada di persimpangan kehidupan. Mereka berdiri di antara berbagai pilihan dan tanggung jawab. Menjadi ibu, menjadi pekerja, menjadi pengelola keuangan keluarga, sekaligus menjadi sumber kekuatan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.

Persimpangan itu tidak selalu mudah.

Ada perempuan yang harus bangun sebelum subuh untuk menyiapkan dagangan. Ada yang berangkat ke kebun setelah memastikan anak-anaknya berangkat sekolah. Ada pula yang menjalankan usaha kecil dari rumah demi menambah penghasilan keluarga.

Mereka jarang tampil dalam statistik pembangunan. Nama mereka tidak selalu tercatat dalam laporan keberhasilan sebuah program. Namun sesungguhnya, merekalah yang menjaga denyut kehidupan tetap berjalan.

Saya kembali memperhatikan perempuan yang membeli es ubi ungu tersebut. Baginya, mungkin minuman itu hanyalah pelepas dahaga setelah seharian beraktivitas. Namun bagi saya, pertemuan singkat itu menghadirkan refleksi yang lebih dalam.

Betapa sering kita melihat perempuan hanya sebagai bagian dari latar kehidupan sehari-hari. Padahal mereka adalah tokoh utama dalam begitu banyak cerita.

Di Tanjung, Karaton, saya melihat seorang perempuan yang memilih untuk tetap tersenyum meski hari-harinya dipenuhi pekerjaan tanpa jeda. Saya melihat keteguhan yang tidak membutuhkan panggung. Saya melihat kekuatan yang hadir dalam bentuk paling sederhana.

Angin laut mulai berembus ketika saya berpamitan. Langit perlahan berubah jingga. Anak-anak masih berlarian di halaman rumah. Sementara perempuan itu masuk ke dalam rumah sambil membawa es ubi ungu pesanannya.

Perjalanan saya berlanjut, tetapi bayangan tentang pertemuan singkat tersebut tetap tertinggal.

Kadang-kadang, sebuah cerita tidak lahir dari ruang rapat, data statistik, atau peristiwa besar yang memenuhi halaman depan media. Kadang cerita lahir dari sebuah persimpangan jalan, dari sebuah pesanan sederhana, dan dari seorang perempuan yang menjalani hidupnya dengan tabah.

Di Tanjung, Kelurahan Karaton, sore itu saya tidak sekadar mengantar es ubi ungu.

Saya sedang menemukan cerita tentang perempuan-perempuan yang setiap hari berdiri di persimpangan kehidupan, lalu memilih untuk terus melangkah maju.