Kisah Fatima, Perempuan Tunggal dari Balik Kandang
Menyambung Hidup dari Sebutir Telur

Share This Article
BANGGAI, METROLUWUK – Ada hari-hari ketika hidup tidak memberi banyak pilihan kepada seorang perempuan selain terus berjalan. Meski tubuh mulai menua, kebutuhan hidup tidak pernah benar-benar berhenti. Pagi datang membawa pekerjaan yang harus diselesaikan, sementara hari esok menyimpan pertanyaan yang belum tentu mudah dijawab. Bagi Fatimah, 56 tahun, kehidupan seperti itulah yang harus dijalani.
Di Kayowa, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Fatimah menggantungkan harapan pada ayam-ayam petelur yang dipeliharanya bersama kelompok usaha. Dari ternak itu, ia berusaha mendapatkan penghasilan. Tidak ada kemewahan yang bisa dijanjikan oleh pekerjaan tersebut. Yang ada hanyalah ikhtiar, hari-hari yang harus dilalui, dan harapan agar hasil dari pekerjaan itu cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Di balik kandang ayam, ada kehidupan seorang perempuan yang tidak selalu mudah diceritakan. Fatimah adalah ibu tunggal dengan dua anak. Pada usianya yang ke-56 tahun, ia menjalani kehidupan tanpa pasangan, sembari berusaha memenuhi kebutuhan keluarga melalui pekerjaan yang bisa dikerjakannya. Ia tidak dapat menghentikan waktu, tidak bisa menunda kebutuhan hidup, dan tidak selalu tahu seberapa besar hasil yang akan diperoleh dari usaha ternaknya.
Menjadi ibu tunggal berarti menjalani tanggung jawab keluarga dalam keadaan yang tidak selalu mudah. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi, ada pengeluaran yang mesti diperhitungkan, dan ada masa depan yang tetap perlu diusahakan. Bagi Fatimah, mencari penghasilan bukan perkara yang bisa dilakukan sesekali ketika keadaan memungkinkan. Usaha harus terus dijalankan karena kehidupan sehari-hari tetap berjalan.
Mungkin bagi orang lain, ayam-ayam di dalam kandang hanyalah ternak yang menghasilkan telur. Namun, bagi Fatimah, keberadaan mereka berkaitan dengan upayanya menyambung hidup. Setiap telur yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi. Di balik hasil yang tampak sederhana itu, ada pekerjaan yang harus dilakukan dan biaya pemeliharaan yang tidak bisa diabaikan.
Ayam tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Pakan harus tersedia, kandang perlu dirawat, dan kondisi ternak mesti diperhatikan. Ketika produksi telur menurun atau ayam mengalami gangguan kesehatan, hasil usaha dapat ikut terpengaruh. Sementara itu, kebutuhan hidup tidak ikut berkurang hanya karena pendapatan sedang tidak menentu.
Di situlah beratnya menjalani usaha kecil. Ada tenaga yang dicurahkan, ada biaya yang dikeluarkan, tetapi hasilnya tidak selalu dapat dipastikan. Bagi seorang perempuan yang mengandalkan usaha ternak sebagai salah satu sumber penghidupan, setiap risiko harus dihadapi dengan kemampuan yang tersedia.
Fatimah menjalani pekerjaan itu sebagai bagian dari kelompok peternak ayam petelur. Ia tidak membangun usaha tersebut sendirian, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk mengelola ternak dan memperoleh hasil. Namun, di luar kegiatan kelompok, ia tetap memiliki kehidupan pribadi yang harus dijalani. Tanggung jawabnya sebagai ibu tidak berhenti ketika pekerjaan di kandang selesai.
Ada kesedihan yang mungkin tidak terlihat ketika orang hanya memandang seseorang dari pekerjaannya. Di hadapan orang lain, Fatimah adalah seorang anggota kelompok peternak. Ia terlibat dalam usaha yang menghasilkan telur, sebuah kegiatan ekonomi yang terlihat sederhana. Namun, di balik pekerjaan itu, ada seorang perempuan yang harus terus mengusahakan kehidupan dan memenuhi tanggung jawabnya sebagai ibu.
Kita tidak selalu tahu apa yang dipikirkan seseorang ketika ia menjalani hari-harinya. Tidak semua kekhawatiran diucapkan, tidak semua beban diceritakan. Ada hal-hal yang cukup disimpan sendiri karena kehidupan menuntut seseorang untuk tetap melangkah. Bagi Fatimah, yang bisa diusahakan adalah pekerjaan di hadapannya: merawat ternak, menjadi bagian dari kelompok, dan berharap usaha itu dapat memberi penghasilan.
Pada usia ketika tenaga tidak lagi sama seperti saat muda, bekerja tetap menjadi bagian dari perjuangan hidupnya. Usia 56 tahun bukan berarti semua tanggung jawab selesai. Kebutuhan tetap ada, sementara kemampuan tubuh dan kesempatan mencari penghasilan tidak selalu sama dari waktu ke waktu. Karena itu, usaha yang dijalani Fatimah memiliki arti lebih dari sekadar kegiatan beternak.
Ada harapan yang dititipkan pada ayam-ayam tersebut. Harapan agar hasil ternak bisa dijual, agar usaha tetap berjalan, dan agar ia memiliki penghasilan untuk menjalani hari-hari berikutnya. Harapan itu mungkin terdengar sederhana bagi orang lain. Namun, bagi seseorang yang harus terus berusaha memenuhi kebutuhan hidup, hal sederhana seperti itulah yang dapat membuat pekerjaan sehari-hari terasa berarti.
Sebutir telur tidak akan menyelesaikan semua persoalan hidup Fatimah. Hasil penjualannya pun tidak serta-merta menghapus kesulitan yang mungkin dihadapi. Tetapi telur itu merupakan bagian dari hasil pekerjaan yang ia usahakan. Di sana ada waktu, tenaga, biaya, dan ketekunan yang dicurahkan untuk menjaga ternak tetap produktif.
Di Kayowa, kisah Fatimah bukan semata-mata tentang seorang perempuan yang memelihara ayam. Ini adalah kisah tentang seorang ibu tunggal yang terus berusaha memperoleh penghidupan melalui pekerjaan yang tersedia baginya. Tentang tanggung jawab yang tetap harus dijalani, meski jalan hidup tidak selalu mudah. Tentang harapan yang tidak datang sekaligus, tetapi diusahakan sedikit demi sedikit.
Dan mungkin, di situlah letak kesedihan sekaligus kekuatan kisah Fatimah: kehidupan tidak selalu memberinya kemudahan, tetapi ia tetap harus mencari cara agar hari esok bisa dijalani. Di antara ayam-ayam petelur itu, ia menitipkan harapan pada hasil yang kecil, sambil terus berusaha menjaga agar hidup tidak berhenti di tengah jalan.

Joni Mengembangkan Usaha Ayam Petelur Berkat Dukungan Pertamina EP Donggi Matindok
Joni menjadi salah satu penerima manfaat program pemberdayaan masyarakat PT Pertamina EP Donggi Matindok Field (DMF) melalui pengembangan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Ayam Lestari di Desa Kayowa, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
Melalui program tersebut, Joni bersama kelompoknya termasuk Fatima, memperoleh dukungan untuk mengembangkan usaha ayam petelur yang diharapkan menjadi sumber penghasilan berkelanjutan. Bantuan ini mencakup sarana peternakan, termasuk kandang berukuran sekitar 3,5 × 30 meter dan fasilitas pendukung pemeliharaan ayam.
Usaha yang mulai dirintis pada 2025 itu mendapat bantuan awal sebanyak 200 ekor ayam petelur. Dalam perkembangannya, sekitar 184 ekor ayam masih dipelihara, dengan produksi mencapai kurang lebih 150 butir telur per hari.
Telur yang dihasilkan dipasarkan secara lokal. Produksi tersebut menjadi modal bagi Joni dan kelompoknya untuk mengembangkan usaha sekaligus belajar mengelola peternakan secara lebih teratur.
Namun, menjalankan usaha ayam petelur membutuhkan ketekunan. Pemberian pakan, kebersihan kandang, ketersediaan air, dan kesehatan ayam perlu diperhatikan setiap hari agar produksi tetap terjaga.
Dukungan PT Pertamina EP Donggi Matindok Field menjadi langkah awal bagi Joni dan kelompoknya untuk menjalankan kegiatan ekonomi produktif. Melalui sarana peternakan yang tersedia, mereka memiliki kesempatan mengembangkan usaha dari proses pemeliharaan hingga pemasaran telur.
“Keberlanjutan usaha tetap bergantung pada kemampuan mengelola biaya operasional, terutama pakan dan perawatan ternak” ujar Joni Jumat, (02/10/2026).
Katanya, kelompok juga perlu mencatat jumlah telur yang diproduksi, hasil penjualan, serta pengeluaran agar dapat mengetahui keuntungan bersih yang diperoleh.
Bagi Joni, kandang ayam petelur bukan sekadar tempat memelihara binatang. Di tempat itulah sebuah usaha kelompok dijalankan, dengan harapan telur yang dihasilkan bisa menjadi sumber penghidupan bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Joni menjadi salah satu penerima manfaat kelompok program pemberdayaan masyarakat PT Pertamina EP Donggi Matindok Field (DMF) melalui pengembangan usaha peternakan ayam petelur di Desa Kayowa, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
Muslimin, juga mengatakan yang membuat usaha peternakan memerlukan perhitungan. Pakan harus tersedia secara berkelanjutan. Kondisi ayam harus dipantau agar produksi tidak terganggu. Sementara itu, telur yang dihasilkan perlu ditangani dengan baik agar kualitasnya tetap terjaga. Pekerjaan yang terlihat sederhana tersebut sesungguhnya memiliki rangkaian tanggung jawab yang saling berkaitan.
Fatima, Joni dan Muslimin anggota kelompok lainnya menjalani usaha dalam kenyataan seperti itu. Mereka bukan hanya berhadapan dengan pekerjaan memelihara ayam, tetapi juga dengan kebutuhan menjaga agar usaha dapat memberikan hasil. Keberlangsungan kelompok sangat bergantung pada bagaimana ternak dirawat dan bagaimana hasil produksinya dimanfaatkan.
Dalam peternakan ayam petelur, pekerjaan tidak berhenti ketika telur sudah terkumpul. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi kembali, ada kondisi ternak yang perlu diperiksa, dan ada biaya yang mesti dihitung. Selama ayam masih dipelihara, tanggung jawab itu terus berjalan.
Bagi orang yang melihat dari luar, hasil usaha mungkin hanya terlihat dalam bentuk telur. Jumlahnya bisa dihitung, kemudian dikalikan dengan harga jual. Namun, perhitungan sederhana tersebut belum menggambarkan keseluruhan kegiatan peternakan. Ada biaya pakan, kebutuhan perawatan, tenaga kerja, serta risiko yang bisa memengaruhi pendapatan.
Ketika produksi berjalan baik, peternak memiliki kesempatan memperoleh hasil sesuai harapan. Sebaliknya, ketika ayam mengalami gangguan kesehatan atau produksi menurun, pemasukan dapat ikut berkurang. Biaya pemeliharaan tetap perlu dipikirkan, meskipun hasil yang diperoleh tidak selalu sama.
Keadaan seperti ini menuntut peternak untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan ternak dan kemampuan usaha. Pengeluaran yang tidak diperhitungkan dapat memengaruhi keuntungan. Begitu pula produksi yang tidak stabil dapat membuat perencanaan menjadi lebih sulit.
Bagi kelompok di Kayowa, keberlanjutan usaha karena itu tidak cukup hanya ditentukan oleh jumlah ayam yang dipelihara. Pengelolaan menjadi bagian penting. Ternak perlu dirawat dengan baik, kebutuhan pemeliharaan harus diperhatikan, dan hasil produksi perlu memiliki jalur pemasaran yang jelas.
Ketika telur menjadi sumber penghidupan
Dibanggai, telur merupakan produk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di rumah tangga, telur dapat menjadi bahan makanan yang mudah diolah. Di pasar, telur menjadi komoditas yang diperjualbelikan. Namun, di balik kemudahan orang memperoleh telur, ada pekerjaan peternak yang tidak selalu terlihat.
Peternak harus memastikan ayam mendapatkan kebutuhan pemeliharaan yang memadai. Mereka juga perlu memperhatikan kualitas hasil produksi. Telur yang dihasilkan harus ditangani dengan baik agar layak dipasarkan. Setiap tahapan memerlukan perhatian, sementara biaya terus berjalan.
Karena itu, nilai ekonomi telur tidak hanya berkaitan dengan harga jualnya. Hasil penjualan perlu dibandingkan dengan pengeluaran yang telah dilakukan. Jika biaya pemeliharaan terlalu tinggi atau produksi menurun, keuntungan bisa tertekan. Peternak perlu memahami kondisi usaha agar dapat mengambil keputusan dengan lebih tepat.
Bagi kelompok di Kayowa, telur menjadi hasil utama yang menghubungkan kegiatan pemeliharaan ayam dengan pemasukan. Namun, hasil itu bukan sesuatu yang muncul tanpa proses. Ada pekerjaan yang perlu dilakukan berulang kali, mulai dari merawat ternak hingga menyiapkan hasil produksi untuk dipasarkan.
Di balik usaha bersama, ada kehidupan masing-masing
Meski usaha dijalankan dalam kelompok, setiap anggota membawa kehidupan dan kebutuhan masing-masing. Hasil dari sebuah usaha dapat memiliki arti berbeda bagi orang yang terlibat di dalamnya. Bagi sebagian orang, usaha peternakan mungkin menjadi tambahan pendapatan. Bagi yang lain, usaha tersebut dapat menjadi salah satu tumpuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Fatimah, anggota kelompok yang berusia 56 tahun dan merupakan ibu tunggal dengan dua anak, memperlihatkan sisi lain dari arti usaha itu. Baginya, keterlibatan dalam peternakan berkaitan dengan upaya memperoleh penghasilan di tengah tanggung jawab keluarga. Kisahnya menunjukkan bahwa sebuah kegiatan ekonomi bersama dapat memiliki makna pribadi yang berbeda bagi setiap anggotanya.
Joni dan anggota lainnya juga merupakan bagian dari kelompok yang sama. Peran mereka dalam usaha perlu dilihat sebagai bagian dari upaya kolektif menjaga peternakan tetap berjalan. Namun, kehidupan pribadi setiap anggota tentu memiliki keadaan dan kebutuhan yang tidak selalu sama.
Di sinilah pentingnya melihat kelompok bukan hanya sebagai nama atau kumpulan orang, tetapi sebagai ruang kegiatan ekonomi yang manfaatnya bergantung pada keberlanjutan usaha. Ketika peternakan dapat berjalan dengan baik, anggota memiliki kesempatan untuk memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Sebaliknya, ketika usaha terganggu, mereka perlu menghadapi dampaknya bersama.

Dari Kandang Ayam Petelur, Pertamina EP Donggi Matindok Dorong Kemandirian Ekonomi Warga Kayowa
Dedy Wahyu Rizaldy bagian Relations/Communication, Relations and Community Involvement & Development (CID) Pertamina EP DMF usaha tersebut mendapat dukungan dari PT Pertamina EP Donggi Matindok Field (DMF) melalui program pemberdayaan masyarakat di sektor peternakan ayam petelur. Program ini menjadi salah satu upaya perusahaan untuk mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi produktif yang dapat dikelola masyarakat secara berkelanjutan.
Bagi kelompok peternak, ayam petelur bukan sekadar ternak yang menghasilkan telur setiap hari. Di balik usaha itu, terdapat harapan untuk membangun sumber pendapatan, memperkuat kemampuan mengelola usaha, dan membuka kesempatan bagi warga untuk mengembangkan ekonomi keluarga.
Pengembangan usaha peternakan membutuhkan ketekunan dan pengelolaan yang konsisten. Ayam harus dirawat secara rutin, kebutuhan pakan perlu diperhatikan, dan kondisi kandang mesti dijaga agar kegiatan produksi dapat berjalan dengan baik. Semua itu menjadi bagian dari proses yang harus dijalani kelompok dalam mempertahankan usaha.
Dukungan Pertamina EP Donggi Matindok Field memberi ruang bagi kelompok untuk mengembangkan kegiatan peternakan ayam petelur sebagai usaha produktif. Melalui program pemberdayaan masyarakat, perusahaan mendorong agar potensi ekonomi lokal dapat tumbuh dan memberi manfaat bagi warga yang terlibat.
Mengembangkan usaha dari kelompok
Usaha peternakan ayam petelur di Kayowa mulai dirintis pada 2025 dengan modal awal berupa 200 ekor ayam. Sejak awal, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun usaha bersama yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi anggota kelompok.
Merintis usaha peternakan tidak cukup hanya dengan menyediakan ayam dan kandang. Kelompok juga perlu memahami proses pemeliharaan, menjaga kesehatan ternak, memenuhi kebutuhan pakan, serta mengelola hasil produksi. Keberlangsungan usaha sangat bergantung pada kemampuan anggota menjalankan kegiatan tersebut secara teratur.
Telur yang dihasilkan menjadi produk utama yang dapat dipasarkan untuk memperoleh pendapatan. Namun, hasil usaha tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya telur yang diproduksi. Biaya pakan, perawatan ternak, kondisi ayam, dan kemampuan menjangkau pembeli turut memengaruhi keberlanjutan usaha.
Karena itu, pengembangan peternakan ayam petelur membutuhkan proses yang tidak sebentar. Kelompok perlu membangun pola kerja yang teratur, membagi tanggung jawab, dan memastikan kebutuhan operasional dapat dipenuhi. Pengelolaan yang baik menjadi salah satu kunci agar usaha tidak berhenti setelah bantuan awal diberikan.
Di sinilah pentingnya program pemberdayaan yang tidak hanya berorientasi pada penyediaan sarana, tetapi juga mendorong kemampuan masyarakat mengelola usaha. Kelompok peternak perlu memiliki kesempatan untuk belajar dari proses yang mereka jalani, mengenali kendala, dan mencari solusi agar kegiatan ekonomi tersebut bisa terus berkembang.
Bagi Joni dan anggota lainnya, keberadaan kelompok menjadi bagian penting dalam menjalankan usaha. Pekerjaan peternakan membutuhkan keterlibatan rutin, mulai dari merawat ayam hingga memastikan hasil produksi dapat dimanfaatkan secara ekonomi.
“Usaha bersama juga membuka ruang bagi anggota untuk berbagi tanggung jawab. Ketika pengelolaan dilakukan secara konsisten, kegiatan peternakan berpeluang menjadi salah satu sumber pendapatan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang”. Kata Dedi, sapaannya.
Pemberdayaan masyarakat melalui peternakan
Terpisah, Fuad Rafif Prasetyo — Community Development Officer (CDO) Pertamina EP DMF program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PT Pertamina EP Donggi Matindok Field melalui pengembangan peternakan ayam petelur menunjukkan salah satu pendekatan untuk mendorong kegiatan ekonomi produktif di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Pemberdayaan masyarakat memiliki peran penting dalam memperluas kesempatan warga mengembangkan potensi ekonomi yang tersedia di lingkungan mereka. Usaha peternakan menjadi salah satu pilihan karena hasilnya dapat dipasarkan dan kebutuhan produknya berkaitan dengan konsumsi sehari-hari.
Meski demikian, keberhasilan program tidak hanya diukur dari dimulainya kegiatan usaha. Hal yang tidak kalah penting adalah kemampuan kelompok mempertahankan produksi, mengelola biaya, memperluas pasar, serta memperoleh pendapatan yang sepadan dengan upaya yang dikeluarkan.
“katanya dalam usaha ayam petelur, kebutuhan pakan menjadi salah satu komponen biaya yang perlu diperhitungkan secara cermat. Kelompok juga harus memperhatikan kesehatan ternak, kebersihan kandang, ketersediaan air, serta penanganan ayam agar produktivitas tetap terjaga” Kata Fuad.
Selain aspek teknis, pemasaran turut menentukan keberlanjutan usaha. Produksi telur perlu disertai akses terhadap pembeli agar hasil peternakan dapat terserap dengan baik. Pengelolaan penjualan dan pencatatan keuangan juga dapat membantu kelompok mengetahui biaya operasional, pendapatan, serta kemampuan usaha untuk berkembang.
Dengan pengelolaan yang terencana, peternakan ayam petelur berpeluang menjadi usaha yang tidak hanya menyediakan produk pangan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi anggota kelompok.
Dukungan perusahaan dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat usaha tersebut. Namun, keberlanjutan tetap memerlukan keterlibatan aktif anggota kelompok, pendampingan yang sesuai kebutuhan, dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap tantangan yang muncul dalam kegiatan peternakan.
Menjaga harapan agar usaha terus berjalan
Bagi masyarakat yang mengembangkan usaha produktif, keberhasilan tidak selalu datang dalam waktu singkat. Ada proses pemeliharaan, pembelajaran, dan penyesuaian yang harus dijalani sebelum usaha mampu memberikan hasil secara konsisten.
Kelompok peternak ayam petelur di Kayowa menghadapi proses yang sama. Kegiatan usaha perlu terus dijaga agar dapat menghasilkan telur, memenuhi kebutuhan operasional, dan memberi manfaat ekonomi bagi para anggotanya.
Dukungan PT Pertamina EP Donggi Matindok Field menjadi bagian dari upaya membuka peluang tersebut. Melalui pengembangan peternakan, kelompok masyarakat memperoleh kesempatan untuk membangun kegiatan ekonomi yang bertumpu pada kerja bersama dan potensi lokal.
Ke depan, keberlanjutan usaha akan bergantung pada kemampuan kelompok mengelola peternakan secara mandiri. Ketersediaan pakan, kesehatan ayam, pengelolaan keuangan, dan akses pasar perlu menjadi perhatian agar usaha dapat bertahan menghadapi berbagai tantangan.
Penguatan kapasitas anggota juga penting supaya kelompok tidak hanya mampu menjalankan kegiatan sehari-hari, tetapi dapat merencanakan pengembangan usaha secara bertahap. Dengan pencatatan produksi dan keuangan yang baik, kelompok bisa mengevaluasi hasil usaha sekaligus menentukan langkah berikutnya.
Peternakan ayam petelur di Kayowa memperlihatkan bagaimana kegiatan ekonomi berskala kelompok dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas kesempatan masyarakat. Dari pemeliharaan ayam hingga pemasaran telur, setiap proses memiliki peran dalam membangun usaha yang lebih terarah.
Bagi Joni dan anggota kelompok lainnya, harapan itu bertumpu pada usaha yang terus dijalankan. Sementara bagi program pemberdayaan masyarakat, tantangan berikutnya adalah memastikan dukungan yang diberikan dapat berlanjut menjadi kemampuan usaha yang mandiri, produktif, dan memberi manfaat nyata bagi warga Kayowa.
Ade Barkah selaku Sr. Officer Communication Relations & CID Pertamina EP Donggi Matindok Field Zona 13 mngatakan, program peternakan ayam petelur KUB Ayam Lestari di Kayowa merupakan bagian dari program Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Pertamina EP DMF untuk mendorong kemandirian ekonomi warga melalui pengembangan usaha produktif.
Berkat dukungan sarana dan prasarana peternakan, kelompok ini kini menghasilkan sekitar 150 butir telur per hari. Keberlanjutan usaha tersebut diharapkan dapat memperkuat kemandirian ekonomi anggota kelompok melalui pengelolaan peternakan yang konsisten dan perluasan pemasaran hasil produksi.
Pada akhirnya, keberhasilan program pemberdayaan tidak hanya diukur dari jumlah ayam atau telur yang dihasilkan, tetapi dari kemampuan masyarakat menjaga usaha tetap berjalan dan memperoleh penghasilan secara berkelanjutan. Di Kayowa, Joni dan anggota KUB Ayam Lestari terus merawat harapan itu, sebutir telur demi sebutir telur, dengan dukungan program pemberdayaan PT Pertamina EP Donggi Matindok Field.

