05/11/2026
×
×
Today's Local
05/11/2026
Tutup x

Dari Kebun Kopi Batui, Energi Menggerakkan Ekonomi

Tim PLN UIP Sulawesi bersama petani di lokasi perkebunan kopi Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, dalam program pemberdayaan masyarakat untuk mendorong kemandirian ekonomi petani kopi.

BANGGAI, METROLUWUK – Embun pagi masih membasahi dedaunan ketika kebun kopi di Desa Nonong, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, perlahan menyambut hari. Butir-butir air menggantung di ujung daun, berkilau ketika cahaya matahari mulai menembus sela-sela tanaman. Udara masih menyisakan kesejukan malam, sementara tanah di bawah tanaman kopi menyimpan kelembapan yang dibutuhkan untuk menjaga kehidupan di kebun.

Di atas lahan itu, bentangan jaringan transmisi listrik melintasi ruang yang kini dimanfaatkan untuk menumbuhkan tanaman produktif. Menara-menara berdiri dengan kabel yang menghubungkan satu titik ke titik lainnya. Di bawahnya, tanaman kopi tumbuh dan dirawat oleh tangan-tangan petani yang menggantungkan harapan pada hasil kebun.

General Manager PLN UIP Sulawesi, Wisnu Kuntjoro Adi, mencicipi Kopi Batui Oishii yang dikembangkan M. Fadly bersama Kelompok Tani Kopi Batui di Desa Nonong, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Foto: Dok. PLN UIP Sulawesi. (30/5/2026) FOTO PLN REGIONAL SULAWESI

Ada dua pekerjaan yang berjalan beriringan di tempat ini. Di satu sisi, infrastruktur ketenagalistrikan dibangun untuk mendukung sistem pasokan energi. Di sisi lain, petani berusaha menjadikan lahan sebagai sumber penghidupan, mengembangkan tanaman kopi, dan membangun usaha yang diharapkan mampu bertahan dalam jangka panjang.

Bagi petani, pekerjaan tidak selesai ketika tanaman tumbuh. Mereka harus menjaga perawatan, memperhitungkan biaya, memikirkan proses pengolahan, dan mencari jalan agar hasil kebun memiliki nilai jual. Tanaman yang dirawat hari ini membutuhkan waktu sebelum memberikan hasil. Sementara itu, biaya produksi terus menjadi bagian dari perhitungan yang tidak bisa diabaikan.

M Fadly menaruh harapan pada kopi, bersama Kelompok Tani Kobshii Batui, ia berusaha mengembangkan hasil kebun menjadi sesuatu yang lebih bernilai, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi anggota kelompok yang berjalan bersamanya.

Perjalanan itu tidak berhenti ketika kopi dipanen. Ada pekerjaan lain yang menunggu setelah biji-biji kopi dikumpulkan. Hasil kebun perlu diolah, kualitasnya dijaga, kemudian disangrai dan dikemas sebelum diperkenalkan kepada konsumen. Di setiap tahapan, ada ketelitian dan keterampilan yang menentukan bagaimana kopi itu akan menjadi sebuah produk.

Bagi Fadly dan kelompoknya, mengembangkan usaha kopi berarti berhadapan dengan pekerjaan yang lebih luas daripada sekadar mengurus kebun. Mereka harus memikirkan bagaimana hasil pertanian dapat diolah dengan baik, bagaimana proses produksi bisa berjalan lebih efisien, dan bagaimana kopi dari desa mereka dapat dikenal di luar lingkungan sendiri.

Di situlah tantangan mulai terasa

Keterbatasan peralatan dan biaya produksi menjadi persoalan yang harus dihadapi Kelompok Tani Kobshii Batui. Keinginan untuk meningkatkan kualitas kopi tidak selalu mudah diwujudkan ketika fasilitas yang dibutuhkan belum memadai. Sementara itu, pengembangan usaha menuntut proses pengolahan yang baik agar hasil kebun memiliki nilai tambah.

“Kami terkendala alat dan biaya produksi,” kata Fadly.

Pernyataan singkat itu menggambarkan salah satu persoalan yang dihadapi kelompoknya. Potensi kopi tersedia, tetapi untuk mengembangkannya menjadi usaha yang lebih baik, mereka membutuhkan dukungan peralatan dan pengetahuan.

Bagi petani, hasil panen merupakan bagian penting dari pekerjaan. Namun, ketika hasil tersebut ingin dikembangkan menjadi produk yang siap dipasarkan, ada banyak hal lain yang perlu diperhatikan. Cara menangani biji kopi setelah panen, proses penyangraian, hingga pengemasan turut menentukan kualitas produk yang diterima konsumen.

Fadly bersama anggota Kobshii Batui berusaha melewati tahapan tersebut. Mereka ingin kopi yang dihasilkan tidak sekadar menjadi komoditas pertanian, tetapi juga mempunyai identitas dan peluang untuk berkembang sebagai produk lokal Kabupaten Banggai.

Perjalanan itu membutuhkan kerja bersama Pada 2010, M. Fadly mulai menapaki jalan yang kelak membawanya pada usaha kopi Berbekal keyakinan bahwa tanah Batui menyimpan potensi besar, ia merintis Kopi Batui Oishii, sebuah usaha yang tumbuh dari keinginannya mengembangkan hasil bumi daerah sendiri. Dalam sebuah kelompok tani, usaha tidak hanya bertumpu pada satu orang. Ada anggota yang ikut mengembangkan kegiatan, ada pekerjaan yang perlu dibagi, dan ada keputusan yang harus dipikirkan bersama agar usaha dapat berjalan.

Kelompok Tani Kobshii Batui yang awalnya beranggotakan 13 orang kemudian berkembang menjadi 25 orang dalam kurun waktu tiga bulan. Pertambahan 12 anggota itu menunjukkan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kelompok.

Angka tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan Kobshii Batui. Namun, bertambahnya anggota juga berarti kebutuhan untuk mengelola kegiatan secara lebih teratur. Produksi, pemanfaatan peralatan, pengendalian mutu, dan pemasaran membutuhkan kerja sama agar perkembangan kelompok dapat diikuti oleh perkembangan usahanya.

Di tengah proses itu, Kopi Batui mulai diperkenalkan sebagai produk khas Kabupaten Banggai. Nama tersebut menghubungkan hasil pertanian dengan daerah asalnya. Bagi kelompok tani, identitas lokal dapat menjadi modal untuk mengenalkan kopi kepada konsumen yang lebih luas.

Akan tetapi, nama saja tidak cukup. Produk perlu memiliki kualitas yang konsisten, pengolahan yang baik, dan kemasan yang sesuai. Petani juga perlu memahami kebutuhan pasar agar usaha yang dikembangkan tidak berhenti pada tahap produksi.

Perjalanan Fadly dan kelompoknya memperlihatkan bahwa mengembangkan komoditas lokal membutuhkan lebih dari sekadar ketersediaan hasil kebun. Ada proses belajar, penyesuaian, dan kerja berkelanjutan untuk menjadikan hasil pertanian sebagai produk yang memiliki nilai tambah.

Di Desa Nonong, upaya itulah yang sedang dijalani Kelompok tani Kobshii Batui di produksi menjadi Kopi Batui Oishii.

Kolaborasi PLN dan petani lokal menjadi langkah nyata dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat serta mengembangkan potensi kopi lokal Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Melalui program PLN Peduli, harapan tumbuh bersama, menguatkan usaha petani dan membuka peluang kesejahteraan yang berkelanjutan.

Ketika usaha membutuhkan dukungan

Perjalanan kelompok tani ini kemudian bersinggungan dengan kehadiran PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sulawesi. Melalui program PLN Peduli dalam skema Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PLN memberikan dukungan untuk mengembangkan usaha kopi Kobshii Batui sejak 2024.

Bantuan tersebut hadir ketika kelompok menghadapi keterbatasan peralatan dan biaya produksi. Dukungan mencakup mesin roasting, peralatan pengemasan, serta pelatihan pengelolaan kebun, penanganan pascapanen, dan pembuatan produk minuman kopi.

Bagi Fadly, bantuan itu menjadi bagian dari upaya kelompok memperbaiki proses produksi. Peralatan yang lebih memadai memberikan kesempatan untuk mengembangkan tahapan pengolahan, sedangkan pelatihan membantu anggota memahami cara menangani kopi dari kebun hingga menjadi produk.

“Dengan bantuan PLN sejak 2024, kami bisa meningkatkan kualitas hasil kopi dan prosesnya menjadi jauh lebih efisien. PLN benar-benar membantu kami melihat masa depan usaha kopi ini dengan lebih optimis,” ujar Fadly.

Dukungan tersebut tidak menghilangkan seluruh tantangan yang dihadapi petani. Usaha kopi tetap membutuhkan pengelolaan yang konsisten, perawatan peralatan, dan kemampuan mempertahankan kualitas. Namun, tersedianya fasilitas dan pelatihan dapat membantu kelompok memperkuat fondasi usaha yang sedang mereka bangun.

Mesin penyangrai menjadi salah satu peralatan yang penting dalam pengolahan kopi. Sementara itu, peralatan pengemasan membantu menyiapkan produk agar lebih layak diperkenalkan kepada konsumen. Pelatihan pengelolaan kebun dan pascapanen melengkapi dukungan tersebut dengan pengetahuan mengenai proses produksi.

Pengembangan produk minuman kopi juga memberi kesempatan bagi kelompok untuk mempelajari bentuk pengolahan yang berbeda. Dengan demikian, usaha tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga pada kemungkinan mengembangkan produk yang dapat menjangkau kebutuhan konsumen.

General Manager PLN Unit Induk Pembangunan Sulawesi, Wisnu Kuntjoro Adi, mengatakan bantuan tersebut ditujukan agar petani di sekitar proyek ketenagalistrikan ikut berkembang bersama pembangunan.

“Kami ingin petani kopi di sekitar proyek kami tidak hanya jadi penonton, tetapi turut tumbuh bersama PLN. Oleh karena itu, kami bantu tidak hanya mesin roasting dan pengemasan, tetapi juga pelatihan pengelolaan kebun, pascapanen, hingga pembuatan produk minuman kopi yang mampu bersaing dengan coffee shop modern,” jelas Wisnu.

Pernyataan tersebut menggambarkan pendekatan PLN yang tidak hanya memberikan peralatan, tetapi juga mendukung peningkatan keterampilan masyarakat. Dalam pengembangan usaha berbasis pertanian, keduanya saling melengkapi. Peralatan dapat membantu proses produksi, sedangkan keterampilan diperlukan agar fasilitas tersebut dimanfaatkan secara tepat.

Bagi Kobshii Batui, dukungan itu menjadi salah satu bagian dari perjalanan mengembangkan Kopi Batui. Keberhasilan selanjutnya akan bergantung pada kemampuan anggota kelompok menerapkan pengetahuan yang diperoleh, menjaga kualitas hasil, dan mengelola usaha secara berkelanjutan.

Tumbuh di sekitar pembangunan ketenagalistrikan

Kebun kopi yang dikelola Kelompok Tani Kobshii Batui berada di bawah jaringan transmisi 150 kilovolt (kV) dan di sekitar proyek pembangunan PLTMG Luwuk berkapasitas 40 megawatt (MW).

Lokasi tersebut memperlihatkan pertemuan dua aktivitas yang berbeda: pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan dan usaha pertanian masyarakat. Jaringan transmisi menjadi bagian dari sistem penyediaan tenaga listrik, sementara kebun kopi menjadi ruang bagi petani untuk mengembangkan penghidupan.

Pemanfaatan lahan di bawah jaringan transmisi harus tetap mengikuti ketentuan keselamatan dan ruang bebas yang berlaku. Aktivitas pertanian tidak boleh mengganggu pengoperasian jaringan atau membahayakan orang yang bekerja di sekitarnya.

Dalam konteks itulah dukungan kepada Kobshii Batui menjadi bagian dari upaya memperhatikan masyarakat di sekitar proyek. Pembangunan infrastruktur tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan fisik, tetapi juga membuka ruang bagi perusahaan untuk mendukung kegiatan ekonomi yang dijalankan warga.

Wisnu menjelaskan bahwa penggunaan peralatan berbasis listrik dapat membantu meningkatkan efisiensi produksi.

“Dengan menggunakan listrik, kelompok tani dapat menghemat biaya operasional, memangkas waktu kerja, sekaligus berkontribusi pada pengurangan emisi karbon. Ini langkah konkret mendukung energi bersih yang juga bermanfaat langsung untuk masyarakat,” kata Wisnu.

Manfaat penggunaan listrik dalam kegiatan produksi tetap perlu dilihat berdasarkan kondisi nyata di lapangan, termasuk biaya operasional dan perubahan waktu kerja. Pengukuran sebelum dan sesudah penggunaan peralatan akan membantu menunjukkan besarnya manfaat secara lebih objektif.

Meski demikian, pemanfaatan listrik untuk kegiatan produktif menunjukkan bahwa energi dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk pengolahan hasil pertanian. Teknologi menjadi berarti ketika membantu menjawab kebutuhan nyata dan dapat digunakan secara berkelanjutan.

PLN sebelumnya merencanakan dukungan lanjutan berupa mesin grader, alat ukur kadar air kopi, sertifikasi mutu, pelatihan lanjutan, dan penambahan instalasi listrik. Perkembangan pelaksanaan rencana tersebut perlu dikonfirmasi agar kondisi terbaru usaha Kobshii Batui dapat diketahui secara pasti.

Masa depan Kopi Batui

Bagi Fadly dan kelompoknya, pekerjaan berikutnya adalah menjaga agar usaha kopi dapat terus berkembang. Kualitas produk perlu dipertahankan, peralatan harus dirawat, dan pemasaran perlu diperkuat supaya hasil kebun dapat menjangkau konsumen secara lebih luas.

Pengembangan Kopi Batui tidak hanya menyangkut proses produksi. Kelompok juga perlu membangun tata kelola usaha, mencatat biaya, mengatur pemanfaatan fasilitas, dan memastikan pembagian pekerjaan berjalan baik. Hal-hal tersebut penting agar pertumbuhan jumlah anggota dapat diikuti oleh perkembangan usaha.

Data mengenai peningkatan produksi, jumlah penjualan, omzet, dan pendapatan anggota akan membantu menunjukkan seberapa jauh perubahan ekonomi telah terjadi. Dengan ukuran yang jelas, perjalanan Kobshii Batui dapat dilihat bukan hanya sebagai kisah pemberian bantuan, tetapi sebagai proses pengembangan usaha yang hasilnya dapat dievaluasi.

Dukungan PLN menjadi salah satu bagian dari proses tersebut. Peralatan dan pelatihan menyediakan kesempatan bagi petani untuk memperbaiki pengolahan kopi, sementara keberlanjutan usaha bergantung pada kemampuan kelompok mengelola kesempatan itu.

Di Desa Nonong, Fadly bersama Kobshii Batui terus mengembangkan potensi kopi lokal. Mereka berada dalam perjalanan untuk menjadikan hasil kebun sebagai produk yang memiliki identitas dan nilai tambah bagi masyarakat.

Kisah ini bukan semata-mata tentang mesin atau program pemberdayaan. Intinya adalah usaha sekelompok petani untuk mengembangkan apa yang mereka miliki, menghadapi keterbatasan, dan membangun kemungkinan ekonomi dari hasil pertanian.

Dari kebun kopi di Desa Nonong, harapan itu tumbuh melalui kerja bersama. Peralatan dapat membantu memperbaiki proses produksi, pelatihan dapat memperkuat keterampilan, dan dukungan dapat membuka kesempatan. Namun, yang menjaga perjalanan tersebut tetap berjalan adalah ketekunan petani dalam merawat kebun, mengolah hasil, dan membangun usaha dari waktu ke waktu.