Warga Desa Mayayap Tegas Tolak Tambang Nikel, Khawatir Rusak Ekosistem dan Sumber Hidup

Share This Article
BANGGAI – Gelombang penolakan terhadap aktivitas pertambangan kembali menguat di Kabupaten Banggai. Kali ini, suara keras datang dari masyarakat Desa Mayayap dan sekitarnya yang dengan tegas menyatakan menolak rencana masuknya perusahaan tambang nikel di wilayah mereka.
Dalam spanduk penolakan yang beredar di media sosial, warga menegaskan bahwa keberadaan tambang nikel akan membawa dampak serius terhadap lingkungan hidup maupun kehidupan sosial ekonomi masyarakat. “Merusak ekosistem, mencemari air, udara, serta meningkatkan risiko bencana alam,” begitu bunyi poin-poin penolakan yang terpampang jelas.
Warga khawatir, jika aktivitas pertambangan tetap dijalankan, sektor pertanian dan perikanan yang selama ini menjadi sumber utama mata pencaharian akan terancam. Lahan produktif bisa terdegradasi, sementara ekosistem pesisir dan laut berpotensi rusak akibat limbah maupun sedimentasi.
“Mayoritas masyarakat di sini hidup dari bertani dan melaut. Kalau tambang masuk, kami yang paling merasakan dampaknya. Sawah bisa tercemar, hasil tangkapan ikan menurun,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Selain kerusakan lingkungan, warga juga menyoroti potensi persoalan sosial yang bisa muncul. Masuknya perusahaan tambang dikhawatirkan akan menggeser mata pencaharian utama masyarakat, memunculkan kesenjangan sosial, hingga menimbulkan konflik horizontal. Lebih jauh, mereka juga meragukan janji-janji perusahaan soal peningkatan kesejahteraan.
“Tambang tidak menjamin kesejahteraan merata. Justru yang ada, masyarakat bisa kehilangan sumber penghidupan,” tegas warga lainnya.
Dengan penolakan yang semakin lantang, masyarakat Desa Mayayap berharap pemerintah daerah hingga pusat bisa mendengar aspirasi mereka. Bagi warga, menjaga kelestarian alam sama artinya dengan menjaga masa depan generasi mendatang.

