10/06/2026
×
×
Today's Local
10/06/2026
Tutup x

Energi untuk Negeri, Harapan di Ujung Desa Sinorang

Anak-anak SD Inpres Tumpu Jaya 1 antusias mengikuti permainan edukatif yang dibawakan relawan Pertamina. ist

BANGGAI, Metroluwuk – Pagi itu, udara masih lembap ketika derap langkah anak-anak SD Inpres Tumpu Jaya 1 memenuhi jalan setapak di Desa Sinorang, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai. Mereka berjalan berkelompok, sebagian masih menenteng sandal jepit yang becek karena sisa embun malam. Senyum mereka lebar, tawa berderai, dan mata berbinar menatap ruang kelas sederhana yang menjadi pusat harapan.

Sekolah ini tak besar. Hanya satu bangunan berdinding papan, beberapa jendela kayu, dan halaman yang dipenuhi rumput liar. Jumlah siswanya pun tak seberapa: 25 anak. Namun, di tempat inilah mimpi-mimpi kecil itu tumbuh. Hari itu, mereka menanti kedatangan tamu istimewa—para relawan dari PT Pertamina EP Donggi Matindok Field yang membawa sebuah program bernama Pertamina Energi Negeri (PEN) 8.0.

Bagi anak-anak Desa Sinorang, hari itu berbeda. Biasanya, guru mereka hanya mengajar dengan buku seadanya. Kali ini, kelas berubah riuh, penuh permainan, cerita, dan inspirasi. Dan jauh lebih dari itu, kedatangan tim Pertamina menjadi bukti bahwa meski berada di pelosok, mereka tak pernah dilupakan.

Menyusuri Sungai, Menembus Batas

Untuk bisa sampai ke sekolah ini, perjalanan bukan hal yang mudah. Tim relawan Pertamina harus menyeberangi sungai menggunakan rakit kayu. Sungai itu bukan sekadar aliran air biasa, tapi penghalang yang sering memisahkan desa dari akses pendidikan dan informasi. Bagi sebagian orang kota, menyeberangi sungai dengan rakit mungkin terasa aneh, tapi bagi masyarakat Sinorang, itulah keseharian.

Namun, keterbatasan akses justru menjadi semangat bagi Pertamina. Bahwa kehadiran mereka tak boleh berhenti di pusat kota atau sekolah besar, tetapi harus menjangkau anak-anak di desa-desa kecil. PEN 8.0 membuktikan bahwa energi sejati adalah keberanian untuk hadir di tempat yang jauh sekalipun.

Di atas rakit itu, para perwira Pertamina membawa buku, peralatan permainan edukatif, serta semangat berbagi. Mereka datang bukan dengan formalitas, melainkan dengan wajah ramah, duduk bersama anak-anak, bercanda, dan menyemangati. Ada aura yang berbeda, pertamina bukan sekadar perusahaan energi, tapi juga sahabat bagi pendidikan.

Mimpi Kecil di Ruang Kelas Sederhana

Di sela kegiatan, seorang bocah kelas empat, Arif namanya, dengan polos mengangkat tangan ketika ditanya apa cita-citanya. “Saya mau jadi guru, biar bisa ajar adik-adik di sini,” katanya lirih, membuat relawan tersenyum bangga. Sementara di pojok kelas, Siti, siswi kelas lima, mengaku ingin menjadi dokter. “Supaya kalau ada orang sakit di desa, tidak usah jauh-jauh ke kota,” ujarnya sambil menggenggam erat buku tulis barunya.

Harapan-harapan itu sederhana, tapi nyata. Mereka lahir dari pengalaman hidup sehari-hari di desa, keterbatasan fasilitas, akses kesehatan yang sulit, serta ruang belajar yang seadanya. Namun, di balik keterbatasan itu, mereka memiliki semangat besar.

Bagi anak-anak SD Inpres Tumpu Jaya 1, mimpi bukan hanya soal masa depan, melainkan juga cara untuk bertahan hari ini. Mereka ingin membuktikan bahwa meski jumlah mereka hanya 25, mereka punya impian yang sama besarnya dengan anak-anak lain di kota.

Itulah sebabnya, kehadiran Pertamina melalui PEN 8.0 menjadi sangat berharga. Ia bukan hanya membawa kegiatan seru, tapi juga menyalakan keyakinan bahwa mimpi mereka layak diperjuangkan. Bahwa sekalipun lahir dan besar di tepian sungai, mereka bisa tumbuh setinggi langit.

Energi untuk Negeri, Harapan untuk Anak Negeri

Program Pertamina Energi Negeri bukan hal baru. Sejak pertama kali digagas delapan tahun lalu, program ini konsisten hadir sebagai wujud nyata komitmen Pertamina mendukung dunia pendidikan di Indonesia. Tahun ini, PEN serentak digelar di 80 sekolah dasar di seluruh Indonesia, dengan satu pesan yang sama: “Energi untuk Negeri – Anak Hebat, Indonesia Kuat.”

Di Banggai, SD Inpres Tumpu Jaya 1 terpilih menjadi lokasi penyelenggaraan PEN 8.0. Pilihan ini mungkin terkesan sederhana: sebuah sekolah kecil di desa terpencil. Namun, di baliknya ada makna besar. Bahwa setiap anak berhak mendapatkan ruang yang sama untuk belajar, bermimpi, dan tumbuh.

Tema PEN tahun ini adalah “AKASHA”, dari bahasa Sansekerta yang berarti “ruang”. Tema ini bukan sekadar simbol. Ia adalah pengingat bahwa setiap anak membutuhkan ruang—ruang untuk berkreasi, untuk berinovasi, dan untuk merajut mimpi. Dan lebih jauh lagi, AKASHA juga mengajak mereka menjaga ruang yang lebih luas: bumi, lingkungan, dan keseimbangan ekosistem.

Hari itu, suasana kelas yang biasanya sepi berubah menjadi panggung keceriaan. Relawan Pertamina mengajak anak-anak bermain peran, bernyanyi, dan bercerita. Materi yang diberikan tidak membosankan: tentang anti-bullying, cara bijak menggunakan media sosial, hingga mengenal bisnis energi dengan bahasa sederhana.

Ada permainan yang membuat anak-anak berlarian di halaman. Ada sesi diskusi yang membuat mereka berani angkat tangan, bercerita tentang cita-cita. Ada pula momen hening, ketika seorang relawan bertanya: “Siapa yang ingin menjadi guru? Siapa yang ingin menjadi dokter? Siapa yang ingin membangun desa ini menjadi lebih maju?” Hampir semua tangan terangkat, wajah mereka serius namun penuh keyakinan.

Di mata anak-anak itu, Pertamina bukan hanya perusahaan besar. Ia adalah orang-orang yang datang memberi perhatian, mendengarkan, dan percaya bahwa mimpi mereka penting.

Suara dari Pertamina

Pjs. Manager Pertamina EP Donggi Matindok Field, Amirrulah, menegaskan bahwa kehadiran PEN adalah wujud nyata kepedulian perusahaan.
“Kami percaya pendidikan adalah pondasi bangsa. Melalui Pertamina Energi Negeri, kami ingin hadir bukan hanya membawa energi untuk negeri, tetapi juga energi untuk harapan dan mimpi anak-anak Indonesia, termasuk di pelosok daerah,” ujarnya.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Ia menjelma dalam tindakan nyata: para relawan Pertamina menembus batas wilayah, menyeberangi sungai dengan rakit, dan menghadirkan energi positif di sebuah sekolah yang jumlah siswanya hanya dua puluh lima orang. Kehadiran mereka menyalakan senyum, menghadirkan semangat baru, dan mengajarkan bahwa pendidikan tidak mengenal jarak maupun keterbatasan.

Amirrulah menekankan bahwa energi yang dibawa Pertamina bukan hanya dalam bentuk sumber daya migas, melainkan juga dalam bentuk inspirasi dan motivasi. “Kami ingin anak-anak di Sinorang percaya bahwa mimpi mereka layak diraih. Bahwa meski mereka tinggal jauh dari kota, kesempatan untuk menjadi bagian dari generasi unggul tetap terbuka lebar,” tambahnya.

Pernyataan itu menemukan gaungnya di ruang-ruang kelas sederhana. Setiap tatapan mata anak-anak Sinorang yang berbinar, setiap tepukan tangan kecil yang riang, menjadi bukti bahwa energi itu sampai. Bukan sekadar cerita, melainkan pengalaman yang kelak akan mereka kenang sebagai titik awal menatap masa depan dengan keyakinan baru.

Sementara itu, Rudin Jo, Koordinator Wilayah PEN 8.0 Luwuk Banggai, menambahkan bahwa jumlah siswa yang sedikit tidak pernah menjadi alasan untuk mengurangi makna kegiatan ini.
“Jumlah siswa yang relatif sedikit tidak mengurangi arti dari kegiatan ini. Justru melalui semangat Pertamina Energi Negeri, kami ingin menebarkan energi positif, menciptakan ruang kreativitas untuk adik-adik. Kami percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan inspirasi, motivasi, serta wawasan untuk menatap masa depan,” ujarnya Minggu, 25 Agustus 2025..

Kata-kata itu terasa hidup di ruang kelas kecil Sinorang. Suara tawa anak-anak membahana di udara, berpadu dengan semangat yang terpancar dari wajah mereka. Meja dan kursi sederhana menjadi saksi bagaimana imajinasi yang sebelumnya tersembunyi kini berani muncul ke permukaan. Ada yang dengan percaya diri mengangkat tangan menjawab pertanyaan, ada pula yang antusias mengikuti permainan edukatif yang dirancang para relawan Pertamina.

Bagi Rudin Jo, suasana itu adalah wujud nyata dari misi PEN: membuka ruang baru bagi anak-anak untuk percaya pada kemampuan diri mereka sendiri. Bukan hanya belajar tentang anti-bullying, literasi digital, atau nilai-nilai akhlak, tetapi juga belajar tentang keberanian bermimpi. “Kami ingin adik-adik di sini tahu bahwa mimpi mereka tidak kalah besar dari anak-anak di kota besar. Mereka juga punya ruang untuk berkembang, dan itulah yang ingin kami hadirkan melalui PEN,” katanya dengan mata berbinar.

Di tengah keterbatasan fasilitas, kegiatan sederhana ini menjelma jadi ruang kreativitas yang hangat. Anak-anak yang awalnya malu-malu kini lebih terbuka, berani tampil, dan mengekspresikan ide-ide mereka. Itulah energi positif yang ditinggalkan, bukan hanya untuk sehari, melainkan bekal yang bisa tumbuh bersama mereka hingga dewasa kelak.

Terima Kasih Pertamina !

Tak kalah menyentuh adalah kesan dari Andi Faisal, S.Pd, Kepala Sekolah SD Inpres Tumpu Jaya 1. Dengan mata berbinar ia mengatakan:
“Kami sangat berterima kasih kepada Pertamina. Anak-anak kami tidak hanya mendapat pengetahuan baru, tapi juga motivasi untuk lebih berani bermimpi. Kehadiran para relawan Pertamina menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi murid-murid kami.”

Bagi Andi Faisal, sekolah kecil di pelosok dengan segala keterbatasan fasilitas sering kali terasa terpinggirkan. Jumlah siswa yang hanya dua puluh lima orang membuat mereka kerap dilupakan dalam program-program besar pendidikan. Namun, kehadiran Pertamina hari itu seperti oase yang memberi kesegaran baru. “Ini bukti bahwa pendidikan di desa juga penting, bahkan harus diperjuangkan,” ujarnya penuh haru.

Ia mengakui, murid-muridnya jarang sekali mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang baru yang bisa memberi inspirasi. Apalagi, relawan Pertamina datang bukan sekadar memberi materi, melainkan juga bermain, berdiskusi, dan memotivasi dengan cara yang menyenangkan. “Anak-anak terlihat sangat antusias. Mereka merasa dihargai, diperhatikan, dan diberi kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi,” tambahnya.

Momen itu, bagi Andi Faisal, bukan sekadar kegiatan sehari. Ia percaya pengalaman ini akan menjadi kenangan yang membekas di hati para siswanya. Setiap tawa, setiap cerita, dan setiap pelajaran yang dibawa para relawan Pertamina adalah bekal yang akan mengiringi mereka ketika melangkah lebih jauh. Harapannya sederhana, agar semangat itu tetap tumbuh dan menjadi cahaya yang membimbing anak-anak Sinorang menatap masa depan yang lebih baik.

Jika energi yang dipahami kebanyakan orang adalah listrik, bahan bakar, atau migas, maka di Desa Sinorang, energi berarti semangat belajar. Energi berarti motivasi yang menyala di mata anak-anak. Energi berarti kepercayaan bahwa masa depan mereka tak dibatasi oleh letak geografis.

Pertamina Energi Negeri menunjukkan bahwa perusahaan energi tak hanya berfokus pada eksplorasi dan produksi. Mereka juga menghadirkan energi sosial, energi inspirasi, dan energi harapan. Menyalakan semangat generasi muda, sekaligus menjaga agar api mimpi mereka tak pernah padam.

Menjelang sore, ketika kegiatan usai, anak-anak melepas para relawan dengan lambaian tangan. Di wajah mereka, senyum tetap merekah. Mereka tahu bahwa hari itu adalah salah satu hari terbaik dalam hidup mereka. Hari ketika mereka belajar bahwa dunia luas, bahwa ada ruang untuk mereka tumbuh, dan bahwa mimpi tak pernah terlalu besar untuk diimpikan.

Bagi Pertamina, PEN 8.0 bukan sekadar program tahunan. Ia adalah perjalanan panjang, menembus batas-batas geografis, sosial, dan psikologis. Ia adalah bukti bahwa energi sejati bukan hanya yang menggerakkan mesin, tetapi juga yang menggerakkan hati.

Di Desa Sinorang, energi itu kini telah menyala. Dan seperti api kecil yang dijaga, ia akan tumbuh, menyebar, dan menjadi cahaya bagi masa depan anak-anak Banggai—dan Indonesia.